Selasa, 30 Desember 2008

KISS

"dik, di dada ini, di sanubari ini, dibilik hati ini, terdapat sepuluh ruang, sembilanya telah terisi penuh oleh dirimu bersama jiwamu, sedang satu ruang lagi aku biarkan agar aku bisa bertahan hidup!" ujarku mantap. Kupandangi wajahnya yang sendu. Di matanya terhampar samudera biru.

"Sejatinya cinta itu tidak perlu diucapkan, kakak! Aku tahu kakak punya perasaan itu. Tapi tolong mengerti aku, aku belum bisa mempercayaimu seratus persen. Lima puluhpun belum. Aku takut kakak permainkan aku. Lalu kakak bohongi aku. Terus kakak kibuli aku. Aku begitu takut. Aku begitu takut ini sekedar petualangan kakak. Aku telah trauma dengan kisah yang pertama. Aku tak mau ketika aku benar-benar jatuh hati, tiba-tiba harus sakit hati lagi. Saat ini aku bertekat, sekali aku jatuh cinta, maka tak akan ada cinta berikutnya."

"dengan apa kakak harus membuktikan bahwa kakak benar-benar serius, dik?"

"entahlah…"

"dik, mungkin waktu yang akan membuktikan bahwa rasa ini bukan permainan belaka!" aku akhiri perjumpaan kali ini dengan perasaan campur aduk. Antara pengharapan, cinta yang telah meledak setelah sekian lama mengendap dalam dada, namun dia belum mempercayai keputusanku untuk aku masuki kehidupannya. Hatiku masygul. Tapi aku yakin waktu akan membuktikannya. Aku begitu yakin cinta ini begitu nyata. Dan aku tidak mungkin mencegahnya.

Mencintaimu sesuatu yang tak bisa aku hindari begitu kuat perasaan yang kurasakan1


To: airin@yahoo.com

Subject: agar_kau_tahu


Adik, tahukah kamu bahwa sepuluh ruang hati ini semua telah terisi oleh dirimu? Aku tak perduli apa aku perlu hidup untuk mencintaimu. Karena aku yakin dengan mencintaimu maka aku bisa terus melanjutkan hidup ini. Aku benar-benar ingin bersamamu.


Belahan jiwamu.

bayu@gmail.com


Keyakinanku berbuah kenyataan. Akhirnya dia membiarkan aku mengambil hatinya. Sepenuhnya. Seutuhnya. Aku bahagia. Betapa tidak, sebagian hidupku telah aku gadaikan kepadanya. Dia telah menginspirasi hidup ini untuk menjadi semakin baik. Semakin tertata. Kini aku menikmati hari-hari indah bersamanya. Aku ingin lebih dalam menyelam dalam samudera kehidupannya.

Namun di saat-saat tertentu, terkadang hati ini bertanya, benarkah dia telah menerimaku dan mencintaiku dengan sepenuh hatinya. Ada satu hal yang ingin aku lakukan untuk membuktikan dan meyakinkan diri ini sekaligus menjawab keraguanku yang terkadang menyergap di sela keyakinan.

Aku ingin menciumnya!

"ciuman itu hal lumrah dilakukan seseorang kepada kekasihnya," kata Isa, teman akrabku diplomatis. Gayanya mengisyaratkan bahwa pacaran tanpa cipika-cipiki-cibibi bagai sayur tanpa garam. Hambar dan tidak menarik selera makan. Pernyataannya itu semakin membulatkan tekadmu untuk meminta belahan jiwaku itu agar mau aku cium. Sekedar menciumnya. Tidak lebih.

"enaknya nyium apanya, sa'?" tanyaku berlagak pilon. Aku berharap dia tidak hanya menjawab pertanyaan tolol itu, tetapi lebih daripada itu aku harap dia mau memberikan tip dan trik bagaimana memulai sebuah ciuman kepada kekasihku.

"emmm… aku pikir yang paling seru adalah mencium b****nya. Sebab kalau pipinya itu ciuman seorang sahabat, di keningnya itu ciuman ibu kepada anaknya…."

"caranya???"

"$%$&^^*(^$%^$#*%#*(*&_*_)*^!!!!!"

***

3 menit berlalu, billinginfo2 di pojok memberitahukan pergantian durasi dan tarif online3. Id4 Airin di YM5-ku belum menunjukkan tanda-tanda OL. Iseng-iseng aku googling6 artikel tentang manfaat berciuman. Ada 134.308 artikel yang berhasil di-link oleh rajanya search engine ini dengan tema manfaat berciuman.

Aku klik link yang paling aku anggap akan memberikan info penting seputar ciuman. Ternyata yang aku klik merupakan sebuah blog milik seseorang yang kontennya memang berisi seputar ciuman. Baru beberapa baris aku baca tulisan di blog ini, sound alert YM dengan bunyi khas memberitahukan bahwa ada seseorang yang sedang OL. Dengan tergesa aku gerakkan mouse, maximizing YM-ku, Id Airin berwarna kuning lebih cerah dari yang lainnya. Dia baru saja OL.

bayu123: hai

airinC4keP: hai jg, dh lama nunggu?

bayu123: lumayan…

airinC4keP: maaf kak tadi masih ngantri

baru123: ah, gap2, gmana kabarnya…

airinC4keP: baik, kakak sendiri?

….. dst.

bayu123: boleh kakak minta sesuatu?

airinC4keP: apa?

Bayu123: kakak minta kamu mau kakak cium. Sekali saja. Tidak lebih!

airinC4keP: apa?

airinC4keP: hah??

Bayu123: kakak ingin menciummu…

Bayu123: boleh?

airinC4keP: untuk apa?

Bayu123: kakak ingin membuktikan bahwa kamu benar2 mencintai kakak?

airinC4keP: haruskah dengan seperti itu?

Bayu123: salah satunya…

airinC4keP: kakak ingin menodaiku….???

Bayu123: sekeder ciuman n satu kali saja!

airinC4keP:

bayu123: Ahad depan kakak di undang Yu Mila di acara ulang tahun Haikal, kakak rasa kamu juga diundang?

airinC4keP: y, adik juga…

***

Pesta ulang tahun putranya Yu Mila berlangsung meriah. Semua undangan pulang. Kecuali beberapa yang memang sengaja tidak pulang karena masih ada keperluan atau memang malas pulang. Termasuk aku dan Airin.

Aku hampiri Airin yang sedang ngobrol ngalor ngidul dengan beberapa ponaan, "dik, bisa kita bicara empat mata sebentar?"

"tentang apa? Penting?"

"nanti kakak jelaskan!"

"sebentar saja, ya? Dimana?"

"aku pikir tidak ada salahnya di ruangannya Yu Mila…"

"gak, ah! Kakak tahu siapa yang ketiga jika ada dua orang berlainan jenis berduaan?"

"setan?"

"yap!"

"jadi kamu anggap Yu Mila setan?"

"aaa… tapi bukan empat mata jika ada Yu Mila?"

"tenang aja, dia tidak akan mendengar apa yang kita omongkan!"

"tidak dengar gimana, emang dia budek apa?

"ah.. jangan banyak tanya, ayok!”

Airin mengekorku. Yu Mila telah lebih dulu tiba.


Di ruangan Yu Mila.

"ayok, kakak mau ngomongin apa?"

"hem…"

"………."

"gimana, ya?"

"ya, gimana?"

Yu Mila nampaknya bereaksi, "ehem… em anu, Yu mau ngambil sesuatu dulu di belakang, kalian teruskan aja mau ngobrolin apa, tapi jangan macam-macam, masih belum halal…" kata Yu Mila seraya menarik ujung-ujung kedua bibirnya membentuk sebuah senyum. Kemudian dia pergi. Suasana masih hening.

"dik,"

"apa?"

"masih ingat topik obrolan kita kemarin di YM?"

"yang mana?"

"ciuman…"

"o… kenapa?"

"kakak mau memintanya sekarang. Saat ini!"

"apa?! Jadi cuma ini kakak ngajak adik ke ruangan ini?"

"ya,"

"sekali lagi adik tanya, kenapa kakak meminta hal yang dilarang itu? Apakah kakak hanya mau mempermainkan adik? Kakak tidak mau kan adik benci kakak hanya gara-gara itu?"

"kakak hanya ingin memantapkan hati kakak… dan kakak benar-benar serius dengan adik,"

"apa tidak ada cara lain?"

"kakak pikir saat ini belum ada kecuali itu,"

Aku beringsut mendekati Airin yang duduk tepat di pinggir tempat tidur. Ketika tubuh kami sangat dekat dan aku memegang kedua bahunya dengan kedua tanganku dia kaget dan seketika berdiri. Aku ikut berdiri. Sekali lagi aku memegang bahunya. Kali ini dia diam. Aku merasa dia mengijinkan aku untuk terus semakin dekat. Aku mendekatkan mukaku ke mukanya. Dia memejamkan kedua matanya. Hatiku berdegub kencang. Tanganku gemetar. Tubuhku mulai berkeringat. Ketika mukaku hampir menyentuh mukanya, tiba-tiba aku melihat ada titik bening memancar dari sudut kedua matanya. Air bening itu kemudian meleleh membentuk anak sungai membelah pipinya yang ranum. Jangtungku seakan berhenti. Aku gugup alang kepalang. Aku seperti tidak menginjak tanah. Aku cemas. Aku mengurungkan niatku. Tidak tahu kenapa tiba-tiba aku menyesal mau melakukannya.

Airin terisak, "jika kakak benar-benar serius dengan adik, tidak seperti ini caranya, kak. Adik hanya ingin menyerahkan semua yang adik miliki kepada suami adik nanti. Dan adik harap kakaklah yang akan mendapatkannya. Nanti setelah kita halal…."

Aku seperti ditampar berjuta tangan kekar. Aku tidak tahu harus berkata apa. Kata-kata Airin telak menohok ulu sanuba ini. Sekali lagi aku menyesal. Tapi aku juga merasa bersyurkur mendapatkan Airin.

"sekali lagi, jika kakak benar-benar serius, pinta adik kepada orang rumah adik…." Masih terisak dia meraih tanganku yang menggantung. Dia membungkuk dan mencium punggung tanganku dengan lembut. Kurasakan getaran bibirnya di tanganku, "adik rasa kakak bisa mengerti. Aku sayang kakak"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar