Rabu, 14 Januari 2009

BAHASA ASING DI TENGAH PROSES KEMATIAN BAHASA MADURA

BAHASA ASING DI TENGAH PROSES KEMATIAN BAHASA MADURA
Oleh Faida Arrofida

Berbicara bahasa asing memang tidak pernah habisnya. Bahkan, sekarang bahasa asing, mulai dikenalkan sejak di bangku TK. (misalnya bahasa Inggris). Awalnya saya pikir bahasa asing itu tidak penting, apalagi dulu, di kampung saya yang (lumayan) terbelakang sering ada ungkapan “untuk apa belajar bahasa asing, toh pada akhirnya tetap di sini saja (Indonesia)”. Waktu itu saya membenarkan ungkapan itu dan “nyuekin” bahasa asing. Tapi ketika saya mulai kenal dunia saya yang sekarang (pesantren) saya mulai menyadari “betapa” saya merasa begitu “kerdil” diantara teman-teman saya yang sudah berteman dengan bahasa asing sejak “baru melihat dunia”. Saya hanya jadi penonton yang baik kala mereka asyik dengan dunia mereka yang “asing” bagi saya.
Jadi, kalau ditanya tentang tanggapan terhadap bahasa asing, tanpa harus berpikir dua kali saya akan berkata “sangat penting”, apalagi saat ini sedang marak-maraknya konpetisisi (baik antar sekolah ataupun antar universitas) yang tak lepas dari bahasa asing, mulai dari konpetisi tertulis (karya ilmiah, misalnya) atau secara lisan (debat), dari tingkat daerah, regional, nasional bahkan Internasional. Bagi yang sudah terbiasa dengan bahasa asing, itu adalah hal biasa, tapi bagi yang belum atau baru kenal dengan bahasa asing itu adalah hal yang “WAH”, bahkan ada yang merasa dirinya “tidak bisa”. Jadi ungkapan bahwa hanya akan berkutat di “kandang sendiri” perlahan tapi pasti mulai terkikis dari benak saya, dan mulai mencoba “PeDeKaTe” dengan bahasa asing.
Selain itu ada hal yang jauh lebih penting lagi kenapa kita dituntut harus bisa menguasai bahasa asing. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa sebentar lagi akan diresmikan jembatan Suramadu yang itu berarti pasar bebas akan dibuka, dan otomatis orang-orang asing akan berdatangan ke kampung kita tercinta ini.
Madura akan menjadi salah satu tujuan pebisnis pada pasar bebas ini termasuk objek wisata yang dimiliki Madura yang tentunya merupakan tempat yang akan banyak diminati oleh para turis. Lalu muncul sebuah pertanyaan, siapkah kita menghadapi perubahan yang sudah di ambang mata ini? Tentunya setelah mental kita siapkan terlebih dahaulu. Itu tidak cukup sebelum kita bisa “lumayan” menguasai bahasa asing, bahkan yang lebih dikhawatirkan lagi kita sebagai “tuan umah” jangan-jangan malahan jadi kambing congek karena kita “buta” dan “tuli” bahasa mereka. Dari sana sudah jelas betapa pentingnya bahasa asing bagi kita.
Setiap sesuatu ada pasangannya, ada siang ada malam, ada hidup ada mati. Begitupun bahasa asing, tidak hanya memiliki sisi positif, sedikit saya akan paparkan “virus” yang kini melanda kaum pelajar kita para “mania” bahasa asing. Ada sebagian golongan karena saking “cintanya” terhadap bahasa asing sampai-sampai “meng anak tirikan” pelajaran lainnya yang hal itu sangat berpengaruh terhadap pendidikan mereka.
Di sisi yang lain kita juga harus melestarikan bahasa daerah yang kita miliki. Sebab bagaimanapun, bahasa daerah (baca: bahasa Madura) merupakan warisan berharga dan aset yang wajib kita jaga. Intinya meskipun kita sudah bercas-cis-cus dengan bahasa asing, tapi enggi punten bahasa daerah kita jangan sampai terlupakan dan hilang begitu saja.
Membincangkan bahasa asing dan bahasa daerah, khususnya Madura, memang seperti membincangkan buah si malakama. Di satu sisi kita dituntut untuk menguasai bahasa asing namun di sisi yang lain kita harus melestarikan keberadaan bahasa daerah. Sebab, bahasa daerah kita berdasarkan penelitian Pusat Bahasa Depdiknas RI, bahasa daerah berjumlah 731. Pada 2007 tinggal 726 karena 5 bahasa diantaranya mati. Keadaan ini juga terjadi dalam bahasa Madura. Penelitian B.K Purwo di tahun 2000 penutur bahasa madura sebanyak 13 juta atau sekitar 5% dari jumlah penduduk Indonesia, sedihnya pada 2007 (hasil penelitian Pusat Bahasa) penutur bahasa madura tinggal 10 juta atau sekitar 2,2% dari jumlah penduduk Indonesia. Ini berarti bahwa bahasa Madura sedang mengalami kemunduran dan kematian. Jadi jika tidak perhatikan sebagaimana kita memperhatikan bahasa asing maka bahasa daerah Madura akan hilang.
Akhirnya, tak ada jalan lain kecuali kita memang harus menguasai bahasa asing namun juga harus tetap menjaga dan melestarikan bahasa Madura dengan berbagai cara. Misalnya menuturkan dalam kehidupan sehari-hari (lisan), tulisan dan lain sebagainya.

Cat :Tulisan ini pernah diterbitkan oleh koran lokal Radar Madura untuk rubrik KEKER PLUS

Selasa, 30 Desember 2008

KISS

"dik, di dada ini, di sanubari ini, dibilik hati ini, terdapat sepuluh ruang, sembilanya telah terisi penuh oleh dirimu bersama jiwamu, sedang satu ruang lagi aku biarkan agar aku bisa bertahan hidup!" ujarku mantap. Kupandangi wajahnya yang sendu. Di matanya terhampar samudera biru.

"Sejatinya cinta itu tidak perlu diucapkan, kakak! Aku tahu kakak punya perasaan itu. Tapi tolong mengerti aku, aku belum bisa mempercayaimu seratus persen. Lima puluhpun belum. Aku takut kakak permainkan aku. Lalu kakak bohongi aku. Terus kakak kibuli aku. Aku begitu takut. Aku begitu takut ini sekedar petualangan kakak. Aku telah trauma dengan kisah yang pertama. Aku tak mau ketika aku benar-benar jatuh hati, tiba-tiba harus sakit hati lagi. Saat ini aku bertekat, sekali aku jatuh cinta, maka tak akan ada cinta berikutnya."

"dengan apa kakak harus membuktikan bahwa kakak benar-benar serius, dik?"

"entahlah…"

"dik, mungkin waktu yang akan membuktikan bahwa rasa ini bukan permainan belaka!" aku akhiri perjumpaan kali ini dengan perasaan campur aduk. Antara pengharapan, cinta yang telah meledak setelah sekian lama mengendap dalam dada, namun dia belum mempercayai keputusanku untuk aku masuki kehidupannya. Hatiku masygul. Tapi aku yakin waktu akan membuktikannya. Aku begitu yakin cinta ini begitu nyata. Dan aku tidak mungkin mencegahnya.

Mencintaimu sesuatu yang tak bisa aku hindari begitu kuat perasaan yang kurasakan1


To: airin@yahoo.com

Subject: agar_kau_tahu


Adik, tahukah kamu bahwa sepuluh ruang hati ini semua telah terisi oleh dirimu? Aku tak perduli apa aku perlu hidup untuk mencintaimu. Karena aku yakin dengan mencintaimu maka aku bisa terus melanjutkan hidup ini. Aku benar-benar ingin bersamamu.


Belahan jiwamu.

bayu@gmail.com


Keyakinanku berbuah kenyataan. Akhirnya dia membiarkan aku mengambil hatinya. Sepenuhnya. Seutuhnya. Aku bahagia. Betapa tidak, sebagian hidupku telah aku gadaikan kepadanya. Dia telah menginspirasi hidup ini untuk menjadi semakin baik. Semakin tertata. Kini aku menikmati hari-hari indah bersamanya. Aku ingin lebih dalam menyelam dalam samudera kehidupannya.

Namun di saat-saat tertentu, terkadang hati ini bertanya, benarkah dia telah menerimaku dan mencintaiku dengan sepenuh hatinya. Ada satu hal yang ingin aku lakukan untuk membuktikan dan meyakinkan diri ini sekaligus menjawab keraguanku yang terkadang menyergap di sela keyakinan.

Aku ingin menciumnya!

"ciuman itu hal lumrah dilakukan seseorang kepada kekasihnya," kata Isa, teman akrabku diplomatis. Gayanya mengisyaratkan bahwa pacaran tanpa cipika-cipiki-cibibi bagai sayur tanpa garam. Hambar dan tidak menarik selera makan. Pernyataannya itu semakin membulatkan tekadmu untuk meminta belahan jiwaku itu agar mau aku cium. Sekedar menciumnya. Tidak lebih.

"enaknya nyium apanya, sa'?" tanyaku berlagak pilon. Aku berharap dia tidak hanya menjawab pertanyaan tolol itu, tetapi lebih daripada itu aku harap dia mau memberikan tip dan trik bagaimana memulai sebuah ciuman kepada kekasihku.

"emmm… aku pikir yang paling seru adalah mencium b****nya. Sebab kalau pipinya itu ciuman seorang sahabat, di keningnya itu ciuman ibu kepada anaknya…."

"caranya???"

"$%$&^^*(^$%^$#*%#*(*&_*_)*^!!!!!"

***

3 menit berlalu, billinginfo2 di pojok memberitahukan pergantian durasi dan tarif online3. Id4 Airin di YM5-ku belum menunjukkan tanda-tanda OL. Iseng-iseng aku googling6 artikel tentang manfaat berciuman. Ada 134.308 artikel yang berhasil di-link oleh rajanya search engine ini dengan tema manfaat berciuman.

Aku klik link yang paling aku anggap akan memberikan info penting seputar ciuman. Ternyata yang aku klik merupakan sebuah blog milik seseorang yang kontennya memang berisi seputar ciuman. Baru beberapa baris aku baca tulisan di blog ini, sound alert YM dengan bunyi khas memberitahukan bahwa ada seseorang yang sedang OL. Dengan tergesa aku gerakkan mouse, maximizing YM-ku, Id Airin berwarna kuning lebih cerah dari yang lainnya. Dia baru saja OL.

bayu123: hai

airinC4keP: hai jg, dh lama nunggu?

bayu123: lumayan…

airinC4keP: maaf kak tadi masih ngantri

baru123: ah, gap2, gmana kabarnya…

airinC4keP: baik, kakak sendiri?

….. dst.

bayu123: boleh kakak minta sesuatu?

airinC4keP: apa?

Bayu123: kakak minta kamu mau kakak cium. Sekali saja. Tidak lebih!

airinC4keP: apa?

airinC4keP: hah??

Bayu123: kakak ingin menciummu…

Bayu123: boleh?

airinC4keP: untuk apa?

Bayu123: kakak ingin membuktikan bahwa kamu benar2 mencintai kakak?

airinC4keP: haruskah dengan seperti itu?

Bayu123: salah satunya…

airinC4keP: kakak ingin menodaiku….???

Bayu123: sekeder ciuman n satu kali saja!

airinC4keP:

bayu123: Ahad depan kakak di undang Yu Mila di acara ulang tahun Haikal, kakak rasa kamu juga diundang?

airinC4keP: y, adik juga…

***

Pesta ulang tahun putranya Yu Mila berlangsung meriah. Semua undangan pulang. Kecuali beberapa yang memang sengaja tidak pulang karena masih ada keperluan atau memang malas pulang. Termasuk aku dan Airin.

Aku hampiri Airin yang sedang ngobrol ngalor ngidul dengan beberapa ponaan, "dik, bisa kita bicara empat mata sebentar?"

"tentang apa? Penting?"

"nanti kakak jelaskan!"

"sebentar saja, ya? Dimana?"

"aku pikir tidak ada salahnya di ruangannya Yu Mila…"

"gak, ah! Kakak tahu siapa yang ketiga jika ada dua orang berlainan jenis berduaan?"

"setan?"

"yap!"

"jadi kamu anggap Yu Mila setan?"

"aaa… tapi bukan empat mata jika ada Yu Mila?"

"tenang aja, dia tidak akan mendengar apa yang kita omongkan!"

"tidak dengar gimana, emang dia budek apa?

"ah.. jangan banyak tanya, ayok!”

Airin mengekorku. Yu Mila telah lebih dulu tiba.


Di ruangan Yu Mila.

"ayok, kakak mau ngomongin apa?"

"hem…"

"………."

"gimana, ya?"

"ya, gimana?"

Yu Mila nampaknya bereaksi, "ehem… em anu, Yu mau ngambil sesuatu dulu di belakang, kalian teruskan aja mau ngobrolin apa, tapi jangan macam-macam, masih belum halal…" kata Yu Mila seraya menarik ujung-ujung kedua bibirnya membentuk sebuah senyum. Kemudian dia pergi. Suasana masih hening.

"dik,"

"apa?"

"masih ingat topik obrolan kita kemarin di YM?"

"yang mana?"

"ciuman…"

"o… kenapa?"

"kakak mau memintanya sekarang. Saat ini!"

"apa?! Jadi cuma ini kakak ngajak adik ke ruangan ini?"

"ya,"

"sekali lagi adik tanya, kenapa kakak meminta hal yang dilarang itu? Apakah kakak hanya mau mempermainkan adik? Kakak tidak mau kan adik benci kakak hanya gara-gara itu?"

"kakak hanya ingin memantapkan hati kakak… dan kakak benar-benar serius dengan adik,"

"apa tidak ada cara lain?"

"kakak pikir saat ini belum ada kecuali itu,"

Aku beringsut mendekati Airin yang duduk tepat di pinggir tempat tidur. Ketika tubuh kami sangat dekat dan aku memegang kedua bahunya dengan kedua tanganku dia kaget dan seketika berdiri. Aku ikut berdiri. Sekali lagi aku memegang bahunya. Kali ini dia diam. Aku merasa dia mengijinkan aku untuk terus semakin dekat. Aku mendekatkan mukaku ke mukanya. Dia memejamkan kedua matanya. Hatiku berdegub kencang. Tanganku gemetar. Tubuhku mulai berkeringat. Ketika mukaku hampir menyentuh mukanya, tiba-tiba aku melihat ada titik bening memancar dari sudut kedua matanya. Air bening itu kemudian meleleh membentuk anak sungai membelah pipinya yang ranum. Jangtungku seakan berhenti. Aku gugup alang kepalang. Aku seperti tidak menginjak tanah. Aku cemas. Aku mengurungkan niatku. Tidak tahu kenapa tiba-tiba aku menyesal mau melakukannya.

Airin terisak, "jika kakak benar-benar serius dengan adik, tidak seperti ini caranya, kak. Adik hanya ingin menyerahkan semua yang adik miliki kepada suami adik nanti. Dan adik harap kakaklah yang akan mendapatkannya. Nanti setelah kita halal…."

Aku seperti ditampar berjuta tangan kekar. Aku tidak tahu harus berkata apa. Kata-kata Airin telak menohok ulu sanuba ini. Sekali lagi aku menyesal. Tapi aku juga merasa bersyurkur mendapatkan Airin.

"sekali lagi, jika kakak benar-benar serius, pinta adik kepada orang rumah adik…." Masih terisak dia meraih tanganku yang menggantung. Dia membungkuk dan mencium punggung tanganku dengan lembut. Kurasakan getaran bibirnya di tanganku, "adik rasa kakak bisa mengerti. Aku sayang kakak"